01 Apr 2016

Rekan trader dan investor, adalah sebuah fenoma ketika kita berbicara mengenai manajemen risiko yang satu ini yaitu “STOP LOSS”. Para profesional dan trader sukses selalu memiliki pendapat yang berbeda mengenai perlu tidaknya menggunakan stop loss dalam setiap transaksi. Sebelum kita mengemukakan pendapat masing-masing, mari kita lihat dulu hakikat perdagangan berjangka termasuk jenis Forex.

Perdagangan derivatif (berjangka), saham, obligasi, waran, maupun bukti right sejatinya adalah produk “pasar modal” yang diperdagangkan atas dasar ‘nilai” bukan fisiknya. Dari namanya saja ‘pasar modal’ kita sudah bisa melihat bahwa yang menjadi barang berpindah tangan (diperdagangkan) disini adalah modal. Maka secara teknis pasar modal merupakan monopoli modal yang diatur sedemikian rupa oleh pemegang hak perdagangan untuk dipindah tangankan dengan menggunakan strategi yang terbaik menurut si pemegang hak perdagangan.

Kata monopoli modal diatas menyiratkan bahwa modal adalah penentu segalanya di pasar sebelum strategi perdagangan itu sendiri. Sekarang jika kita kaitkan dengan strategi perdagangan dimana manajemen risiko adalah bagiannya, dan stop loss sendiri bagian dari manajemen risiko, maka:

Sah-sah saja bagi Anda untuk MENGGUNAKAN STOPLOSS atau TIDAK”

Cukup dilihat saja; Apakah ketersediaan modal Anda cukup untuk menahan volatile harga pasar jika tidak menggunakan stoploss? atau sebaliknya?

Untuk lebih meyakinkan keputusan Anda, sebagai acuan bahwa para pemain besar terutama hedgefunds seperti yang dikelola oleh trader sekelas George Soros, tidak serta merta menempatkan sistem auto cut atau stoploss dalam setiap transaksinya, yang dilakukan oleh kebanyakan hedgefund atau pedagang besar hanya ‘gain market’ dengan manajemen modal yang ketat yaitu 0.2% – 2% maksimal margin dari total funds.stop loss

Lalu bagaimana dengan mereka yang menggunakan atau menyarankan penggunaan stoploss?

Umumnya trader dengan modal kelas retail atau menengah yang telah meraih sukses selalu menggunakan stoploss dalam setiap transaksinya, hal ini karena strategi perdagangan mereka umumnya didasarkan pada spekulasi baik dengan acuan teknikal maupun fundamental. Mereka menyadari bahwa transaksi mereka meggunakan margin yang tidak menentu (sedikit-banyak), bahwa market mungkin saja bergerak lebih besar dari sejarah yang pernah ada (seperti brexit, interest rate CHF, atau cable crash), dan bahwa pada pergerakan pasar yang cepat bid-ask spread akan melebar tanpa batas.

well, bagaimana dengan Anda?

Jika Anda memutuskan tidak menggunakan stoploss, maka terapkan manajemen modal yang sehat sesuai ketersediaan modal yang Anda miliki. Namun jika Anda memutuskan untuk menerapkan manajemen risiko ‘Stop loss’ maka jangan lupa pengaturan rasio; SL harus sama dengan atau lebih kecil dari TP.

Written by: Aryanthara