07 Oct 2016

Menganalisa kejadian Brexit dan Flash Crash Pound sterling terhadap USD

Rekan trader dan investor, tahun 2016 adalah pengalaman baru bagi kebanyakan pelaku pasar Forex termasuk team NusaFx sendiri. Setelah Poundsterling jatuh sejak UK ‘Brexit’ melalui referendum Juni-2016 lalu, kejadian menggemparkan berikutnya adalah ‘Flash Crash’ pada 07-Oktober-2016 dimana GBP melemah 6,1% terhadap USD. Anjloknya Poundsterling kali ini adalah yang terbesar sejak tahun 1985.

nusafx-flashcrash

Ada 2 (dua) spekulasi muncul mengenai hal ini:

Pertama, banyak pedagang atau pengamat berspekulasi bahwa penurunan GBP dipicu oleh kesalahan dan campur tangan manusia, atau disebut “fat-finger”, dengan algoritma menambah tekanan jual di mana likuiditas pasar sedang rendah. “Rendahnya likuiditas memperkuat pergerakan. Orang-orang menduga bahwa ‘fat finger’ memicu order stop-loss,” kata Kaneo Ogino, Direktur Manager Global-Info Co di Tokyo yang dikutip oleh Reuters.

Penurunan yang dipicu gelombang besar aksi stop out atau stop loss ini dimanfaatkan oleh para hedge funds besar dengan mengambil aksi buy cepat. Kemungkinan beberapa hedge funds oportunis, model berbasis akun termasuk pedagang algoritmik, merebut kesempatan untuk memanfaatkan likuiditas pasar yang tipis dan agresif, memicu serangkaian stop-level,” Richard Grace, kepala strategi mata uang dan kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia di Sydney, menulis dalam sebuah catatan kepada klien.

Kedua, beberapa analiyst memperkirakan hal ini merupakan dampak dari artikel Financial Times yang mengutip pernyataan Presiden Prancis Francois Hollande yang menyebut Inggris pasti menderita konsekuensi yang merugikan karena meninggalkan Uni Eropa.

“Kemerosotan itu kebetulan bersamaan dengan munculnya kabar tentang pernyataan Presiden Prancis Hollande, yang menyinggung masalah negosiasi Brexit. Jebloknya Pounds makin runcing setelah ‘tersandung’ hingga jatuh ke level 1.2600 dengan volume trading yang sangat tipis menjelang NFP AS,” kata Su-Lin Ong, ahli ekonomi senior di RBC Capital Markets.

GBP/USD akhirnya jatuh ke level harga 1.1378 namun klaim harga bermunculan secara beragam di berbagai provider perdagangan.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Terlepas dari penyebab dan keragaman quotes harga di berbagai platform trading, satu hal yang pasti adalah; kejadian ini mempertegas prinsip perdagangan Forex yang sebenarnya – bahwa Forex adalah pasar modal dimana kemenangan yang sejati hanya dimiliki oleh modal yang lebih kuat untuk bertahan disegala perubahan kondisi pasar, seperti para hedges fund oportunis yang disebutkan dalam pernyatan Richard Grace.

Ini bukan perkara strategi trading, bukan kehebatan analisa teknikal, ataupun jumlah modal lebih besar atau lebih kecil, bagaimanapun kita sebagai pedagang dengan kategori ‘retail’ akan selalu kalah dibandingkan pedagang atau hedge funds dengan dana raksasanya, KECUALI manajemen perdagangan Anda terhadap modal sudah diatur dengan sehat.

Sebagai contoh;

Pada hari yang sama (cabel crash, 07-10-2016) team trader NusaFx mengelola total 38 akun namun kehilangan 2 akun, satu akun milik manajemen, satu lainnya milik member. Apa yang menyebabkan ke-2 akun tersebut tidak mampu bertahan sementara yang lain survive dan aman?, jawabannya sederhana; ‘minimnya modal’.

Ke-2 akun masing-masing bermodal $850, dan $785 dengan transaksi ‘buy’ terbuka 0.12 lot (setara $1,2/pips), sedangkan dana lain antara $1650-$30.000 dengan volume yang sama. Jika kita hitung, volume transaksi yang digunakan pada ke-2 akun loss adalah 1,2% dari modal sedangkan yang lain kurang dari 0.6% modal. Tahukah Anda, berapa persentase (%) volume yang digunakan para hedge funds besar dalam perdagangan: hanya 0.2% rata-rata.

Bagaimana dengan trading Anda?

by Aryanthara

Post a comment